Kabarreskrim.net// LAMPUNG SELATAN
Ketika akses jalan yang layak menjadi kebutuhan dasar masyarakat, warga di Jl. Sidomulyo, Kampang, Kampang Tiga, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, justru harus bergotong royong dan mengandalkan swadaya masyarakat untuk melakukan perbaikan jalan.
Pemandangan tersebut terekam dalam dokumentasi pada Rabu, 2 September 2026 pukul 13.01 WIB.
Kondisi badan jalan yang masih berupa pengerasan material batu dan tanah menunjukkan bahwa akses tersebut membutuhkan perhatian. Bagi warga yang setiap hari melintasinya, kondisi jalan bukan sekadar persoalan pemandangan, tetapi berkaitan langsung dengan kelancaran aktivitas sehari-hari.
Mulai dari warga yang hendak bekerja, anak-anak yang berangkat sekolah, kendaraan pengangkut kebutuhan masyarakat, hingga aktivitas ekonomi warga, semuanya membutuhkan akses jalan yang aman dan nyaman.
Tak Banyak Menuntut, Warga Memilih Bergotong Royong
Di tengah keterbatasan, masyarakat tidak tinggal diam.
Warga memilih bergotong royong dan mengumpulkan dana secara mandiri untuk membantu memperbaiki jalan yang mereka gunakan bersama.
Dari uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, warga berusaha menghadirkan akses yang lebih baik bagi lingkungannya.
Semangat tersebut menjadi bukti bahwa budaya gotong royong masih hidup. Namun di balik semangat itu, terselip sebuah harapan besar: agar kondisi jalan tersebut tidak hanya diperbaiki sementara, tetapi mendapat perhatian untuk penanganan yang lebih layak dan berkelanjutan.
Swadaya Warga, Sampai Kapan?
Upaya masyarakat tentu patut diapresiasi. Tetapi muncul pertanyaan yang juga layak menjadi perhatian bersama:
Sampai kapan masyarakat harus mengandalkan swadaya untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur yang digunakan bersama?
Kemampuan warga untuk bergotong royong tentu memiliki batas. Sementara kebutuhan akan jalan yang aman dan layak terus berjalan setiap hari.
Karena itu, langkah warga melakukan perbaikan secara swadaya diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi perhatian pemerintah desa maupun pemerintah daerah untuk melihat secara langsung kondisi jalan tersebut dan mempertimbangkan penanganan yang lebih permanen sesuai kewenangan dan program pembangunan yang tersedia.
Bukan Sekadar Jalan, Ada Harapan di Baliknya
Jalan mungkin hanya terlihat sebagai hamparan batu dan tanah bagi orang yang melintas sesaat.
Tetapi bagi masyarakat setempat, jalan adalah akses menuju sekolah, pekerjaan, aktivitas ekonomi, dan kehidupan sehari-hari.
Warga sudah menunjukkan kepeduliannya dengan mengeluarkan tenaga dan dana secara swadaya.
Kini, mereka tentu berharap ada perhatian lebih lanjut agar semangat gotong royong masyarakat tidak berhenti pada perbaikan sementara, tetapi berujung pada hadirnya infrastruktur jalan yang benar-benar layak bagi masyarakat.
Sebab masyarakat tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya berharap jalan yang mereka lalui setiap hari dapat menjadi lebih aman, lebih nyaman, dan lebih baik.
( Asep. M )









