Kabarreskrim.net // Sumbar
Ada satu ironi yang terus saya temui di lapangan:
ketika masyarakat memuliakan wartawan sebagai tempat mengadu, sebagian pejabat justru memandang kami dengan hina—seolah wartawan adalah profesi kelas bawah, tidak punya masa depan, dan hanya layak dicurigai.
Saya menulis ini bukan dari ruang ber-AC, bukan dari balik meja kekuasaan. Saya menulis dari jalanan, dari kantor-kantor yang pintunya sering tertutup, dari wajah rakyat kecil yang harapannya dititipkan kepada wartawan.
Banyak pejabat lupa satu hal mendasar:
wartawan ada karena kekuasaan rawan disalahgunakan.
Ketika kami bertanya, mereka gelisah.
Ketika kami menulis, mereka tersinggung.
Ketika kami mengungkap fakta, mereka marah.
Lalu muncullah stigma murahan:
“Wartawan itu rendahan.”
“Wartawan tidak punya masa depan.”
“Wartawan cuma cari-cari kesalahan.”
Ucapan-ucapan itu bukan sekadar penghinaan profesi, tetapi cermin mentalitas kekuasaan yang alergi terhadap transparansi.
Jika wartawan dianggap rendah, mengapa pejabat panik saat diberitakan?
Jika wartawan tidak penting, mengapa klarifikasi dikejar-kejar?
Jika wartawan tidak berpengaruh, mengapa intimidasi sering terjadi?
Jawabannya sederhana:
kebenaran selalu membuat kekuasaan yang kotor merasa terancam.
Saya menyaksikan langsung bagaimana rakyat kecil dipinggirkan oleh sistem.
Saya melihat guru honorer diperlakukan seperti angka, bukan manusia.
Saya mendengar korban ketidakadilan diancam agar diam.
Dan di saat negara lambat hadir, merekalah yang berkata:
“Pak wartawan, tolong suarakan kami.”
Di titik itulah wartawan berdiri—bukan sebagai penjilat kekuasaan, bukan sebagai musuh negara, tetapi sebagai penyeimbang yang sering tidak disukai.
Wartawan bukan pengganggu.
Yang mengganggu adalah korupsi, kebohongan, dan penyalahgunaan wewenang.
Wartawan bukan pembuat gaduh.
Yang gaduh adalah ketidakadilan yang dibiarkan terlalu lama.
Kami bekerja dengan risiko—dicibir, diintimidasi, dipersekusi, bahkan dikriminalisasi. Namun kami tetap berjalan karena kami paham, tanpa wartawan yang berani, demokrasi hanya slogan kosong.
Kepada pejabat yang merasa lebih tinggi dari wartawan, saya ingin mengingatkan:
jabatan Anda ada batas waktunya.
kekuasaan Anda bisa berakhir.
tetapi rekam jejak kebenaran akan abadi.
Wartawan tidak mencari masa depan dari kekuasaan.
Kami menjaga masa depan dari kerusakan kekuasaan.
Saya, Endang Surianto, berdiri sebagai saksi bahwa wartawan bukan profesi rendahan.
Yang rendahan adalah mental yang takut dikritik.
Yang tidak punya masa depan adalah sistem yang memusuhi kebenaran.
Selama masih ada ketidakadilan,
selama masih ada suara yang dibungkam,
wartawan akan tetap berdiri—meski sendirian, meski diremehkan.
(Endang Surianto)









