Kabarreskrim.net // Solok
Hujan deras yang mengguyur wilayah Lembah Gumanti sejak beberapa hari terakhir memicu banjir bandang yang menerjang Jorong Aie Dingin. Material lumpur dan bebatuan menyapu sejumlah permukiman warga, meninggalkan jejak kerusakan dan kepedihan yang masih terasa hingga kini.
Di tengah suasana duka dan kepanikan itu, Kapolsek Lembah Gumanti, Rahmat Sukarsih, turun langsung ke lokasi terdampak pada Sabtu pagi. Dengan sepatu yang terbenam lumpur hingga mata kaki, ia berjalan menelusuri pemukiman warga yang masih dipenuhi sisa runtuhan material banjir.
Kapolsek tidak datang sendirian. Ia ditemani Anggota DPRD Kabupaten Solok, Novi Amanda, serta sejumlah pemuka masyarakat, tokoh adat, dan para pemuda setempat. Kehadiran para pejabat itu menjadi pemandangan yang menyalakan sedikit harapan di wajah-wajah warga yang masih berjaga di depan rumah masing-masing.
Penyerahan Bantuan di Tengah Suasana Haru
Di sebuah titik pengungsian darurat, rombongan menyerahkan paket sembako, pakaian layak pakai, dan kebutuhan dasar lain kepada warga yang kehilangan harta benda dalam hitungan menit. Tangan-tangan warga menyambut bantuan itu dengan mata yang sembab, sebagian belum sepenuhnya percaya bencana datang begitu cepat.
“Semoga sedikit bantuan ini bisa meringankan beban kita semua,” ujar Novi Amanda, yang terlihat beberapa kali berhenti untuk berbincang dengan ibu-ibu dan lansia yang ditemuinya. Ia menegaskan komitmennya untuk mengawal penanganan bencana ini sampai selesai.
“Kami siap membantu masyarakat dalam bentuk apa pun. Yang penting, masalah ini harus cepat terselesaikan,” katanya.
Kapolsek Rahmat Sukarsih menambahkan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah nagari, BPBD, serta relawan untuk mempercepat proses pembersihan material dan mendata dampak kerusakan. “Kami memastikan keamanan warga, termasuk patroli menjaga rumah-rumah kosong yang ditinggal mengungsi,” ujarnya singkat.
Warga Masih Trauma, Pemulihan Diperkirakan Panjang
Di Jorong Aie Dingin, suara gemuruh banjir bandang masih membekas di ingatan banyak warga. Di beberapa titik, terlihat sisa-sisa kayu dan batu besar menumpuk, menjadi bukti betapa dahsyatnya arus yang datang dari hulu.
Sejumlah warga mengaku masih takut turun ke sungai atau kembali tidur di rumah masing-masing. “Air datang dari atas seperti dinding hitam,” kata seorang pemuda setempat, menggambarkan kejadian malam itu.
Pemerintah daerah memprediksi proses pemulihan akan memakan waktu panjang, mengingat beberapa akses jalan rusak dan jembatan kecil penghubung antar-jorong ikut terseret arus. Namun kehadiran aparat dan wakil rakyat yang langsung turun ke lokasi setidaknya memberi kepastian bahwa warga tidak sendiri menghadapi masa-masa sulit ini. ( Endang S)









