Arus Cahaya Dari Sungai Batang Epik Intelegensia Buya Hamka Dan Museum Yang Menjaga Denyut Peradaban

banner 728x90

Kabarreskrim.net // Lubuk Basung

Di sebuah lembah yang dipagari bukit-bukit tua dan dihampari danau yang memantulkan langit seperti kaca berdoa, berdirilah sebuah rumah panggung di Desa Wisata Sungai Batang. Di sinilah cahaya seorang intelektual besar pertama kali menyentuh dunia. Cahaya itu bernama Buya Hamka—Haji Abdul Malik Karim Amrullah—seorang ulama, filsuf, sastrawan, jurnalis, sekaligus pemugar tradisi intelektual Melayu-Nusantara.

Bacaan Lainnya

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka bukan sekadar bangunan yang dijaga oleh pemerintah daerah atau komunitas budaya. Ia adalah altar sejarah, tempat di mana jalur keilmuan Minangkabau dipahat oleh tangan-tangan yang percaya bahwa pengetahuan adalah lengan yang tak pernah patah. Di rumah inilah Hamka kecil menyerap disiplin ayahnya, Syekh Abdul Karim Amrullah, menyaksikan debat ulama, dan merajut kesadaran bahwa ilmu adalah jalan panjang yang tidak menerima penumpang malas.

Suara Sungai Batang: Sumber yang Menghidupkan Jiwa Sang Cendekia

Di tepian Danau Maninjau, tempat kabut pagi turun seperti lembaran-lembaran surat lama, rumah kelahiran Hamka berdiri sebagai penanda bahwa kejernihan pikiran sering lahir dari tanah yang sederhana. Di tanah ini Hamka belajar membaca, mendengar pidato ulama, menulis di surau, dan menatap danau dengan imajinasi yang kelak menghidupkan novel-novelnya.

Putra bungsu beliau, Amir Syakib, masih mengingat betapa nama ayahnya berkibar jauh di luar batas perairan Indonesia.

“Nama Buya Hamka itu sangat harum di luar negeri, apalagi di Malaysia,” ujarnya. “Museum ini dibangun juga karena kecintaan sahabat-sahabat kita dari Angkatan Belia Islam Malaysia.”

Pembangunan museum tersebut diprakarsai oleh Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), sebuah tanda hormat dari generasi muda Malaysia yang meyakini bahwa pemikiran Hamka bukan hanya milik Indonesia, tetapi milik dunia Melayu.

Pengakuan dari Negeri Piramida

Pengaruh Hamka bahkan menyentuh jantung peradaban Islam modern: Kairo, tempat universitas al-Azhar berdiri sebagai menara ilmu dunia.

Dalam sebuah simposium sastra Melayu di Kairo pada 2010 (dikutip ulang oleh peneliti kontemporer), Prof. Dr. Hasan al-Bishri, akademisi Universitas al-Azhar, menyatakan:

“Hamka adalah suara Melayu yang mampu menyatu dengan tradisi intelektual Timur Tengah. Tulisannya mempunyai napas jernih, seperti udara yang mengalir dari gunung-gunung Sumatera. Ia adalah pembaharu yang lembut namun tegas.”

Kairo mengenal Hamka sebagai juru tafsir visioner, pemikir yang menjembatani teks klasik dengan dunia modern. Karya Tafsir Al-Azhar, yang ditulisnya dalam suasana tahanan politik, bahkan menjadi rujukan akademik di lingkungan studi Qur’ani Asia Tenggara.

Malaysia: Negeri yang Menempatkan Hamka dalam Singgasana Cendekia

Sementara itu, di Malaysia, nama Buya Hamka dianggap sebagai salah satu pilar yang memperkokoh hubungan budaya dan keilmuan antara dua bangsa serumpun.

Sejarawan Malaysia, Prof. Dato’ Dr. Muhammad Zainal Abidin, pernah menuliskan dalam Jurnal Pemikiran Islam Nusantara:

“Hamka bukan sekadar pemikir Indonesia. Ia adalah mata air yang mengalir ke seluruh Malaysia. Novel dan tafsirnya menjadi cermin bagi bangsa kami untuk melihat siapa diri kami sebenarnya.”

Bagi masyarakat Malaysia, Hamka adalah suara moral yang bening, guru yang berbicara tanpa meninggikan nada, dan cendekiawan yang menanamkan akhlak sebagai akar peradaban.

Ruang-Ruang Museum: Arsip Sunyi yang Penuh Nafas

Masuk ke museum, pengunjung seakan memasuki ruang yang menggantung di antara masa lalu dan masa kini. Foto-foto lama yang menghitam, tempat tidur kayu yang sederhana, pena, kitab tua, hingga surat-surat keluarga—semua itu tampak seperti menunggu seseorang untuk membacakan ulang kisahnya.

Di sebuah sudut terlihat dokumentasi perjalanan Hamka sebagai ulama nasional yang dihormati. Ia pernah menjadi Ketua MUI pertama, penulis produktif, dan pembicara yang dihormati dunia. Di sudut lain, novel-novelnya dipamerkan sebagai ingatan bahwa sastra bisa menjadi jembatan antara iman dan kemanusiaan.

Tokoh budaya Indonesia, Taufiq Ismail, pernah berkata tentang Hamka:

“Ia bukan hanya menulis. Ia menghidupkan jiwa kata, membuat huruf-huruf berdiri tegak dengan kesetiaan pada moral.”

Perjalanan Menuju Sungai Batang: Menembus Jalur Waktu

Untuk mencapai museum, ada dua jalur utama yang menawarkan pengalaman yang berbeda:

Dari Bukittinggi melalui Kelok 44

Tikungan demi tikungan seperti membuka gulungan kisah lama. Dari puncak bukit, Danau Maninjau terlihat seperti halaman kitab tua yang direbahkan Tuhan di tengah lembah.

Dari Lubuk Basung atau Bandara Internasional Minangkabau Jalur ini lebih lembut bagi pendatang baru. Desa-desa yang dilalui seperti menyambut pengunjung dengan kesunyian yang damai.

Museum dibuka setiap hari kecuali Jumat, pukul 09.30–17.30 WIB.

Warisan yang Tak Pernah Menutup Mata

Buya Hamka adalah sosok yang memahami bahwa ilmu adalah perjalanan panjang. Ia pernah menulis:

“Jangan takut menghadapi hidup dengan hati bersih. Orang yang berani adalah orang yang jujur pada dirinya sendiri.”

Museum ini tidak hanya memelihara artefak. Ia memelihara arah.

Ia mengingatkan generasi muda bahwa dari rumah panggung di Sungai Batang, seorang anak desa mampu menerangi dua benua.

Ketika pengunjung berdiri di halaman museum dan menatap Maninjau yang luas, sering muncul rasa bahwa cahaya Hamka masih mengalir dari danau itu. Seakan-akan setiap riak air membawa pesan agar ilmu tidak pernah disempitkan, agar akhlak tidak pernah dikerdilkan, dan agar manusia selalu berjalan dengan hati yang tegap.

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka bukan hanya tempat singgah wisata. Ia adalah mahkota peradaban. Sebuah pengingat bahwa Minangkabau pernah melahirkan cahaya yang tak padam. (Endang S)

Pos terkait

banner 728x90